Search

Minggu, 23 Agustus 2009

Mewujudkan Islam Rahmatan lil Alamin




Resensi, Surabaya Post,23 Agustus 2009

Jum’at, 17 Juli 2009 lalu bom kembali menguncang bumi Nusantara. tepatnya pukul 07.55 WIB bom meledak di Hotel JW Marriott dan Hotel Rizt-Carlton. Sembilan dinyatakan tewas dan puluhan luka-luka. Pascapeledakan tersebut kelompok Noor Din M Top kembali buruan polisi. Diduga kelompok jaringan teroris internasional ini bertanggung jawab atas peladakan tersebut.
Jaringan Noor Din M Top menyatakan bahwa bom bunuh diri adalah bentuk jihad fi sabilillah. Siapa yang mampu melakukannya akan mendapatkan surga dan bidadari di Surga. Namun, pemahaman ini mendapat kecaman keras dari ulama. Bahkan, majelis ulama Indonesia (MUI) sebagai representasi ulama di Indonesia, mengharamkan bom bunuh diri. Menurut MUI jihad tidak dilakukan dengan bom dan membunuh orang-orang yang tidak berdosa. Lebih lanjut, MUI menyatakan apa yang dilakukan oleh kelompok Noor Din M Top adalah terorisme bukan jihad.
Namun demikian, inilah potret umat Islam Indonesia. Ada yang radikal, fundamental, liberal, bahkan sekuler. Sebuah keniscayaan di negeri seribu satu pulau ini.
Banyaknya paham keislaman ini tentunya perlu diolah agar menjadi rahmat. Artinya, Islam dapat mewujud dalam dimensi ketuhanan dan kemanusiaan yang adil dan beradab. Islam mempunyai tanggung jawab lebih dalam mewartakan kedamaian dan ketenteraman di muka bumi. Hal ini karena, Islam merupakan agama rahmatan lil alamin. Ketika Islam tidak mampu mewujudkan dirinya sebagai rahmatan lil alamin, berarti ia kehilangan sebagian besar ruh yang ada di dalam dirinya.
Islam harus menjadi garda depan dalam pencerahan dan peradaban bangsa dan negara Indonesia. Islam bukanlah sekte yang terkotak-kotak atau dikotak-kotak.
Inilah salah satu buah pemikiran yang tertuang dalam buku Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan; Sebuah Refleksi Sejarah, karya Begawan Muslim Indonesia Ahmad Syafi’i Ma’arif.
Islam dalam pandangan mantan ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah harus tampil dengan wajah yang anggun, inklusif, dan mampu turut serta dalam mengisi kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan wajah ini diharapkan persoalan-persoalan sosial seperti kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan sosial dapat diselesaikan dengan baik dan bijak.
Namun mengapa hingga kini Islam belum mampu berwujud seperti hal tersebut? Menurut Pendekar Chicago—meminjam istilah Gus Dur—ini, klaim besar Islam dalam sejarah yang belum terwujud mendekati maksimal dalam peradaban manusia sekarang. Masyarakat Islam masih saja disibukkan dengan urusan internnya (organisasi) sendiri-sendiri. Mereka masih garang bahkan saling serang antarsatu dengan yang lainnya.
Umat Islam masih berjibaku dengan urasan akherat dan melupakan urusan dunia. Padahal menurut Jalaluddin Rumi sebagaimana dikutip dalam buku ini, siapapun yang mengaku dapat berjalanan di langit, mengapa harus sulit baginya melangkah di bumi. Ini berarti, umat Islam tidak boleh hanya berkutat pada urusan surga dan neraka. Sudah saatnya umat Islam juga berdebat bagaimana memakmurkan bangsa dan negaranya.
Buku ini merupakan refleksi mendalam Buya Syafi’i dalam melihat realitas keislaman di Indonesia. Buku ini bukan buku tuntutan agama, melainkan sebuah buku yang akan menuntun umat Islam menemukan keislamannya di bumi Nusantara dalam bingkai kemanusiaan yang holistik.
Guru Besar Sejarah pada Universitas Negeri Yogyakarta ini sepertinya ingin menggugat konsepsi keislaman yang selama ini dianut oleh umat Islam Indonesia. Ia juga ingin memperlihatkan kepada dunia bahwasannya Islam merupakan agama rahmatan lil alamin tanpa harus mereduksi konsepsi yang ada di dalam al-Qur’an maupun Sunnah.
Sebagai seorang tokoh yang mengerti betul akan sejarah, Buya Syafi’i bercerita panjang lebar mengenai sejarah bangsa Indonesia yang tidak pernah lepas dari bingkai keislaman yang humanis. Dengan ketajaman analisis dan pengalaman bertemu dengan banyak orang dan kalangan, Islam ditangan pendiri Ma’arif Institute ini menjadi kekuatan nyata dalam membangun sebuah peradaban. Maka tidak heran jika, Azumardi Azra dalam pengantarnya menyatakan bahwa buku ini merupakan masterpiecenya Prof. Ahmad Syafi’i Ma’arif.
Pada akhirnya, dengan membaca dan memahami buku ini semoga aksi kekerasan atas nama Islam yang senantiasa mengancam kedaulatan bangsa ini sirna dari bumi pertiwi. Selamat membaca.

*)Benni Setiawan, Pembaca buku, peneliti Lembaga Ma’rifat Indonesia.

Merangsang Embrio Metafisika




Resensi, Seputar Indonesia, Minggu, 23 Augustus 2009

Tema metafisika menurut Aristoteles ialah ”kenyataan sebagai kenyataan”.Metafisika terfokus kepadait isjustru karena it is.Hal yang berlaku juga untuk it is karena it is berlaku untuk all what is. It is ialah seluas segala kenyataan.


Pertanyaan khas metafisika terarah kepada it is,that it is dan why it is.Metafisika dalam arti yang khas lebih tepat disebut ontologia. Karena ontologi,menurut Aristoteles, terarah kepada to on hei on (on berarti keadaan, logos berarti paham) atau dalam bahasa Latin disebut ens in quantum ens, maka terarah kepada ”pengada sekadar pengada”,yaitu suatu usaha untuk memahami ”kenyataan sekadar kenyataan”. Metafisika dalam arti ontologia menuju metaphysical insight.

Dalam it is disentuh all what is. Luasnya tidak terbatas (paling ekstensif) dan paham terarah kepada ”akarnya” sehingga merupakan yang paling dasariah (hlm 30- 31). Maka, metafisika membahas ”seluas segala kenyataan”. Metafisika yang dirumuskan Aristoteles ini sering disebut dengan metafisika pertama.Rumusan kesatuan dan kebanyakan ala Aristoteles ini juga menimbulkan masalah pokok yang tetap aktual sampai sekarang.Rumusan metafisika Aristoteles berhadapan dengan ”realisme dan idealisme” ala Immanuel Kant.

Masalah bagi realisme dan idealisme adalah manusia terkurung dalam pengetahuan (imanensi) atau manusia terbuka untuk membiarkan kenyataan untuk menyatakan dirinya (transendensi). Batu ujian bagi kebenaran dalam metafisika realisme adalah kenyataan yang menyatakan diri (evidential objectiva). Menurut Kant, yang datang dari luar melalui impressions yang menyentuh indera (sependapat dengan Hume).

Untuk membela sifat umum dan perlu, maka keputusan science (kontra Hume) memerlukan struktur apriori dalam akal. Struktur apriori dalam akal merupakan kondisi apriori dan dasar bagi sifat umum dan perlu atas keputusan science. Dasar sifat umum dan perlu bukanlah kenyataan (metaphysics of objectivity), melainkan merupakan struktur apriori dalam akal manusia (metaphysics of subjectivity).

Budi manusia bersifat mengonstruksikan impressions yang datang dari luar dan menyembunyikan kenyataan. Budi bukan lumen (cahaya) yang olehnya kenyataan menjadi nyata dan menyatakan diri.Akal manusia dalam idealisme ekstrem bersifat menciptakan (idealisme radikal). Budi manusia menurut Kant bersifat mengonstruksikan impressions (idealisme filsafat kritisisme Kant). Maksud Kant mengenai struktur apriori diterangkan dengan contoh kacamata yang berwarna biru. Bayangkan semua manusia lahir dengan kacamata berwarna biru.

Manusia tidak mengetahui keberadaan kacamata itu.Manusia melihat semua kenyataan berwarna biru. Dasarnya bukan kenyataan, melainkan kacamata yang berwarna biru. Untuk memastikan hal itu, kita harus memanggil seseorang yang tidak memakai kacamata tersebut dan ternyata orang itu tidak ada. Kacamata yang berwarna biru bersifat transendental dalam arti superindividual dan kodrati. Dalam contoh ini, kacamata berwarna biru terdapat pada manusia sejak lahir.

Akhirnya,manusia tak pernah mengetahui apakah kenyataan itu berwarna biru atau hanya dilihat berwarna biru karena memakai kacamata berwarna biru. Contoh ini ingin mengatakan bahwa kacamata merupakan struktur apriori dalam akal, maka bersifat transendental dan kodrati (hlm 101-102). Masalah lain bagi idealisme atau realisme sebenarnya terletak pada ”titik awal”.Titik awal dari kritisisme Kant adalah dualisme. Pengetahuan dan kenyataan dari awal terpisah.Manusia terkurang pada pengetahuan yang terpisah dari kenyataan. Inilah titik dari transcendental idealism(Kant).

Dalam transcendental thomism, dari awal pengetahuan dan kenyataan merupakan suatu kesatuan. Kondisi apriori dari segala kegiatan manusiawi merupakan prapengetahuan yang seluas kenyataan. Inilah titik tolak dari transcendental realisme. Prapengetahuan ”seluas segala kenyataan” berarti bahwa dari awal, pengetahuan dan kenyataan tidak terpisah. Manusia terbuka tanpa batas. Prapengetahuan yang seluas segala kenyataan mendahului proses eksplisitasi yang terbatas.

Eksplisitasi tidak terkurung dalam pengetahuan, tetapi sungguh mengeksplisitasi kenyataan. Inilah metafisika realisme tradisi Aristoteles-Thomas yang kontra dengan metafisika idealisme Kant. Eksplisitasi merupakan eksplisitasi terbatas atas prapengetahuan yang tak terbatas. Inilah paradoks pengetahuan manusiawi, terbatas dan tidak terbatas serta ilahi dan manusiawi. Paradoks ini menjadi dasar bagi dinamika. Eksplisitasi tidak terkurung dalam pengetahuan. Eksplisitasi bersifat relatif dan terbatas namun benar kalau sesuai dengan kenyataan yang dari awal luasnya secara implisit identik dengan luas pengetahuan.

Prapengetahun menjadi dasar untuk menilai apakah eksplisitasi benar atau tidak.Dasar metafisika realisme adalah kehadiran prapengetahuan yang dari awal seluas kenyataan (hlm 150-151). Buku Seluas Segala Kenyataan ini merupakan kelanjutan dari karya Manusia, Paradoks dan Seruan (2004),Manusia dan Kebenaran (2006). Ini trilogi dari peraih gelar doktor dari Perguruan Tinggi Propaganda Fide,Roma,tahun 1957.

Sebagaimana dua buku sebelumnya, buku yang ditulis dosen Fakultas Filsafat Agama,Universitas Katolik St Thomas, Medan, (1986- 1999) ini agak sulit dimengerti bagi mereka yang tidak terbiasa dengan bacaan filsafat.Apalagi dua buku sebelumnya terlewatkan.Namun, sebagai sebuah trilogi, buku ini menawarkan sebuah kajian akademis yang mendalam.Dengan kesabaran dan ketekunan kita akan dibawa menyelami kajian filsafat yang memesona dan mencerahkan.

Lebih dari itu, buku ini bertujuan merangsang pembaca supaya mulai bermetafisika. Di zaman sekarang saintisme telah mendewa-dewakan salah satu cara untuk memperoleh paham, scientifical insight. Padahal manusia bersifat multidimensional dan paham itu pun multidimensional. Scientifical insight, philosophical insight, dan metaphysical insight masing-masing otentik. Berfilsafat dan bermetafisika merupakan kegiatan manusiawi yang asli.

Pentinglah menyentuh dan merangsang embrio metafisika yang hadir sejak awal. Embrio ini perludirangsanguntukdapatselalu dinamis menuju kedewasaan.(*)

Benni Setiawan,
Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga,Yogyakarta