Search

Sabtu, 23 Desember 2006

Bendera Parpol di Lokasi Bencana

Sinar Harapan, 24 Januari 2006
Bendera Parpol di Lokasi Bencana
OlehBenni Setiawan
Setelah diserang dengan isu korupsi dan menjadi lembaga terkorup dengan index 4.0, partai polilik (parpol) mengubah wujudnya menjadi lembaga yang dekat dengan rakyat. Hal ini tampak dengan merebaknya berbagai macam bendera Parpol yang membentang di beberapa wilayah bencana alam.Seorang teman bersama Keluarga Mahasiswa Banjarnegera yang berdomisilisi di Yogyakarta, beberapa hari yang lalu menyerahkan bantuan dari hasil sumbangan masyarakat untuk korban banjir dan tanah longsor di Banjarnegera. Pemandangan unik lagi menggelikan langsung mencolok mata. Berbagai macam atribut parpol yang biasanya keluar pada saat kampanye, menghiasi lokasi bencana itu. Bendera besar berwarna menyala sempat menutupi badan jalan menuju ke lokasi.Keberadaaan bendera parpol ini bukanlah hal yang baru di dalam masyarakat Indonesia. Ketika terjadi gempa dan tsunami di Aceh dan Sumatera Utara awal tahun 2005 yang lalu, berbagai macam bendera partai pun berkibar dengan gagah di tempat penampungan, tenda-tenda darurat bahkan di berbagai tempat ibadah.Bahkan, konon, ada salah satu kontestan Pemilu 2004 yang berhasil masuk dalam tujuh besar perolehan suara melakukan perbuatan yang tidak perlu dicontoh. Parpol tersebut dengan telah sengaja memasang bendera partainya besar-besar di hampir seluruh sudut kota Aceh. Anehnya, mereka tidak berkeringat sama sekali. Artinya, mereka hanya memasang bendera partainya setelah lokasi tersebut bersih dari puing-puing bangunan yang hancur mayat-mayat yang membusuk. Relawan JengkelTentu hal ini membuat jengkel relawan yang dengan tulus ikhlas membersihkan tempat tersebut. Maka, setelah aksi pemasangan bendera selesai, para relawan juga melancarkan aksi, pencabutan atau pembersihan bendera dari lokasi bencana tsunami.Pemasangan bendera parpol telah menjadi simbol bahwa, parpol tersebut benar-benar mengakar dan peduli dengan keadaan rakyat. Walaupun pada kenyataanya, mereka hanya ongkang-ongkang dan main tunjuk. Perilaku picik ini dalam politik mungkin halal dan bahkan sangat dianjurkan. Akan tetapi, dari segi etika bangsa Indonesia, hal ini sangat memalukan dan merendahkan. Kehadiran parpol dengan misi pemasangan seribu bendera di lokasi bencana alam hanyalah bentuk pemihakan semu. Artinya, mereka nampaknya ingin cuci tangan terhadap dosa-dosa politik yang telah mereka lakukan.Parpol ingin mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa dirinya adalah lembaga yang patut untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Hal ini ditunjukkan dengan model pemasangan benderanya di lokasi bencana alam. Akan tetapi, mereka melupakan satu hal, bahwa rakyat sekarang tidak mudah dibohongi dengan janji-janji politik yang muluk-muluk.Masyarakat sekarang sudah bisa menganalisis sebuah persoalan. Melalui media cetak dan elektronik, masyarakat akan tahu dalam hitungan menit bahkan detik apa yang telah dilakukan oleh anggota DPR. Anggota dewan sebagai representasi parpol telah banyak melukai bangsa Indonesia. Bahkan, luka yang lebih dahsyat dari pada musibah bencana alam. Ketika, bencana alam menyerang, masyarakat masih dapat meminta bantuan dari tetangga di lain desa atau kepada masyarakat yang terketuk hatinya untuk menyumbangkan (menyisihkan) sebagian hartanya untuk orang lain yang kesusahan.Tutup Mata Hal ini jelas berbeda dengan sepak terjang anggota dewan yang terhormat. Mereka telah membuat dan atau menyetujui kenaikan harga BBM dengan kompensasi gaji dan tunjangan mereka naik sekian ratus persen, sesuai dengan Kelayakan Hidup Layak (KHL) seorang pejabat negara.Mereka menutup mata dan pendengarannya terhadap rintihan rakyat dan buruh yang menderita akibat kenaikan harga BBM. Anggota dewan juga dengan ”PD” melancong ke luar negeri, yang konon katanya kunjungan dinas atau studi banding. Akan tetapi di luar negeri malah membeli barang-barang bermerek untuk oleh-oleh keluarganya. Kembali pada persoalan pemasangan seribu bendera di lokasi bencana alam. Pemasangan seribu bendera ini juga digunakan sebagai alat kampanye (baca: pencurian start kampanye). Sebagaimana di wilayah Banjarnegera. Beberapa bulan lagi, Banjarnegera, akan melangsungkan pilkada Bupati dan Wakil Bupati. Beberapa calon sudah menebarkan senyum dan memberikan bahan makanan, obat-obatan dan kebutuhan hidup pokok lainnya. Truk-truk penggangkut barang-barang tersebut terbentang bendera parpol dan spanduk yang bertuliskan, ”Sumbangan dari Bapak/ Ibu B”.Pamer kekuatan dan seberapa besar jumlah sumbangan yang diberikan kepada masyarakat dijadikan sarana atau media kampanye yang paling efektif. Sekarang mereka menyumbang dengan uang pribadinya. Kelak setelah menjadi pejabat, mereka akan minta ganti rugi atau mengembalikan modal yang telah ia keluarkan dengan membuat program kerja fiktif.
Penulis adalah Direktur Yayasan Nuansa Sejahtera, Yogyakarta