Search

Selasa, 21 Oktober 2008

Hutan Adalah Nenek Moyang Kita



Pikiran Rakyat, Selasa, 21 Oktober 2008

Rencana Pemerintah Kota Bandung membangun rumah makan di Babakan Siliwangi menuai protres. Aktivis lingkungan yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Bandung, intelektual, dan seniman Bandung menolak rencana ini. Mereka beranggapan pembangunan rumah makan di Babakan Siliwangi, akan menghancurkan hutan alam kota. Hancurnya hutan alam kota ini akan semakin memperburuk kondisi Kota Bandung. Hal ini, disebabkan bencana banjir, tanah longsor, dan kekeringan akan menjadi ancaman nyata bagi penduduk Kota Bandung.

Hutan alam merupakan anugerah Tuhan yang tak ternilai harganya. Dengan demikian, pemandangan kota menjadi asri, hijau, teduh, dan nyaman. Namun, jika hutan alam dirusak, maka malapetaka besar akan datang. Maka tidak aneh jika dalam kosmologi masyarakat Baduy Dalam Jawa Barat, ada istilah hutan adalah nenek moyang kita. Falsafah hidup ini juga ada dalam masyarakat Papua yang menyatakan bahwa hutan adalah ibu kita.

Tidak aneh jika masyarakat Baduy Dalam masih memercayai bahwa masih ada hutan yang pantang untuk dijarah (dimasuki) manusia. Mereka menganggap bahwa di dalam hutan tersebut ada kuburan nenek moyang yang tidak boleh dirusak. Jika hutan dirusak, maka akan mengakibatkan malapetaka (pamali).

Lebih dari itu, hutan tidak hanya terdiri dari pepohonan yang rindang. Namun, di dalam hutan ada tatanan kosmologi antara manusia dengan alam. Hutan mengandung sejuta manfaat bagi manusia. Hutan menyediakan air jernih murni, untuk memenuhi kebutuhan minum manusia dan makhluk lain. Hutan juga menyediakan kayu sebagai salah satu bahan untuk membuat rumah dan alat memasak bagi manusia.

Hutan tidak hanya benda "mati". Ia adalah benda hidup yang selalu memayungi kehidupan umat manusia. Betapa sudah banyak manusia mati akibat merusak hutan.

Sebagai nenek moyang, hutan merupakan sejarah luhur umat manusia. Ia adalah tempat bergantung dan berlindung. Hutan merupakan alam manusia yang selalu hidup dalam setiap kehidupan. Ketika hutan sebagai nenek moyang dirusak umat manusia, berarti manusia kehilangan arti kesejarahan hidup. Proses kesejarahan hidup umat manusia akan terputus. Dan pada akhirnya manusia akan menjadi makhluk terasing di bumi ini.

Dalam kasus Babakan Siliwangi, misalnya, pohon-pohon di sana akan ditebang dan dibakar di tempat. Betapa manusia melakukan kerusakan yang amat besar. Pohon-pohon di Babakan Siliwangi telah berumur puluhan bahkan ratusan tahun. Butuh dua generasi untuk menumbuhkan pepohonan tersebut.

Namun, pemerintah dan pengembang ternyata tidak pernah berpikir sampai di situ. Mereka hanya memikirkan keuntungan jangka pendek. Mereka tersesat dalam kubangan kapitalisme global yang membelenggu.

Pembangunan rumah makan tentunya tidak harus di Babakan Siliwangi, apalagi dengan merusak ekosistemnya. Masih banyak tempat lain, yang dapat dibangun rumah makan.

Babakan Siliwangi tidak hanya hutan alam kota saja. Babakan Siliwangi merupakan pertautan kosmologi masyarakat Sunda di Bandung Jabar dan alam. Hal ini disebabkan, Babakan Siliwangi merupakan bagian dari kawasan Bandung Utara dan ekor dari lembah Cikapundung, yang berfungsi sebagai daerah penampungan air hujan. Kondisi daerah Cikapundung telah rusak, daerah Pluncut dan Dago Pakar sebagian besar telah beralih fungsi menjadi permukiman dan komersial, tinggal Babakan Siliwangi yang diandalkan untuk menangkal banjir.

Menurut Sobirin, anggota dewan pakar dari Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), selama tiga tahun terakhir setiap musim hujan Sungai Cipaganti yang berada di bawah Punclut meluap. Ratusan rumah di Kelurahan Hegarmanah, Kecamatan Cidadap, terendam air dan lumpur. Jika Babakan Siliwangi dirusak, daerah genangan banjir akan lebih luas. Sebaliknya, pada musim kemarau, warga makin kesulitan air bersih. Suhu udara di Bandung juga meningkat. Jika 15 tahun lalu suhu di Bandung maksimal 17 derajat Celcius, kini mencapai 34 derajat Celcius.

Dengan demikian, merusak Babakan Siliwangi selain mengakibatkan rusaknya tatanan makro dan mikrokosmos bumi Bandung, masyarakat Bandung (Sunda) akan kehilangan hubungan simbolik dengan nenek moyangnya (hutan). Masyarakat Bandung dan sekitarnya akan menerima "buah" dari apa yang telah mereka kerjakan, berupa banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Lebih dari itu, masyarakat Bandung telah melupakan proses kesejarahan hidupnya dan meninggalkan falsafah kehidupannya sebagai ciri masyarakat Sunda yang beradab.***

Penulis, peneliti sosial.