Search

Minggu, 29 Maret 2009

Mengasah Pandangan Kritis



Resensi, Seputar Indonesia, Minggu, 29 Mareh 2009

Sejak krisis multidimensional 12 tahun lalu, bangsa ini selalu dirundung masalah. Masalah paling berat yang dihadapi bangsa ini adalah krisis identitas dan kemanusiaan.

Bangsa ini kehilangan identitas budaya nasional sebagai jati diri bangsa. Masyarakat Indonesia begitu terpesona dengan budaya Barat.Ia tidak merasa enjoydengan budayanya sendiri. Anak-anak muda lebih ”mendewakan” artis Hollywood dan Bollywood daripada seniman lokal, pemeran ketoprak, seni pertunjukan wayang kulit, atau sendra tari Ramayana.

Mereka sudah tidak tahu lagi Pandawa Lima atau kisah Ramayana. Mereka lebih fasih melafalkan cerita tentang Spiderman atau kisah ”patriotisme”ala Barat. Maka tidak aneh jika bangsa ini juga dilanda krisis kemanusiaan. Sikap individualisme menjadi ”tuhan” baru masyarakat modern.

Sikap patriotisme dan nasionalisme ala Soekarno, Hatta, Shahrir, Tan Malaka,sudah tidak ada lagi.Malah mereka mungkin sudah menghapus nama-nama founding fathers dari ingatannya. Lebih dari itu, krisis identitas dan kemanusiaan telah membutakan mata hati kita untuk melihat kebenaran dan keadilan.

Kebenaran dilihat secara abu-abu sehingga tidak lagi jelas kebenarannya.Kebenaran menjadi sesuatu yang abstrak, padahal ia dapat dikonkretkan. Demikian pula dengan keadilan. Keadilan dimaknai tunggal sebagai keadilan individu. Keadilan untuk masyarakat banyak hanyalah mimpi di siang bolong.

Keadilan hanya berlaku bagi pendukung, kolega, kelompok partai politik,ataupun konstituen. Sebagaimana kita saksikan hari-hari ini,semua berebut simpati dan berdebat mengenai kebenaran dan keadilan. Juru kampanye (jurkam), meneriakkan keberhasilan dan keadilan semu yang mereka kerjakan. Apa yang dilakukan selama ini menjadi keberhasilan dan prestasi terbaik dalam sejarah.

”Pertama kali dalam sejarah,” teriak mereka.Di sisi lain,banyak parpol mencibir gagasan dan kerjakerja yang selama ini telah dilakukan. Siapa yang benar dan berbuat adil, menjadi tanda tanya yang tak terjawab. Melalui buku Perspektif Etika Baru,K Bertens menyuguhkan sekian data dan fakta mengenai berbagai masalah yang selama ini menjadi perbincangan masyarakat.

Masalah-masalah tersebut menjadi semakin lengkap dan menarik karena dibedah dengan perspektif etika dan moral.Dengan perspektif ini,persoalan masyarakat tidak lagi menjadi perbincangan yang kaku dan monoton. Keluasan penekun etika dan filsafat dari Universitas Atma Jaya,Jakarta ini semakin memuaskan dahaga kita untuk memandang setiap persoalan dengan jernih dan menyeluruh.

Buku ini terdiri atas lima bab yang dibagi berdasarkan catatan persoalan.Bab pertama membedah persoalan etika sosial-politik. Alumnus Universitas Leuven, Belgia ini memaparkan persoalanpersoalan etika sosial-politik yang pernah mewarnai sejarah demokrasi Indonesia.

Persoalan sosialpolitik bangsa Indonesia menjelang dan saat Pemilu 2004 dibahas dengan santun dan mendalam tanpa mencederai pihakpihak yang bertarung saat pemilu kedua di era reformasi tersebut. K Bertens, dengan ketajaman analisisnya mampu mengetengahkan persoalan demokrasi bangsa dengan bahasa lugas dan tegas.

Direktur Pusat Pengembangan Etika (1984-1995) Universitas Atma Jaya, Jakarta ini mengemas persoalan sosial-politik yang njlimet menjadi bacaan yang renyah dan mencerahkan. Bab kedua, Bertens membedah cakrawala etika global. Dalam bab ini, Bertens menulis 13 artikel mengenai persoalan dunia yang juga berimbas pada kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Melalui bab ini kita akan menemukan persoalan dunia yang perlu disikapi secara arif dan bijaksana oleh bangsa Indonesia. Bab ketiga, K Bertens sebagai akademisi yang banyak bersentuhan langsung dengan dunia kampus mengkritik dengan santun sistem kehidupan di perguruan tinggi.

Kritik atas pendidikan di perguruan tinggi akan mampu membuka mata kita melihat kehidupan kampus sebagai basis pendidikan tinggi di Indonesia secara nyata. Kebobrokan sistem pendidikan di kampus diuraikan secara cerdas tanpa menggurui siapapun. Bab keempat,Ketua Himpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia (HIDESI) tahun 1990-1997 ini mengupas masalah bioetika.

Pada bab ini, Bertens tidak hanya menggunakan analisis etika dan moral dalam mengurai persoalan bioetika. Namun, ia juga mampu mengetengahkan pandangan agama tanpa harus terjebak dalam dogma. Bab kelima,Bertens menampilkan beberapa filsuf, seperti Imanuel Kant, Paul Ricoeur,Newman, Pascal,Plato,dan Nelson Mandela.

Nelson Mandela misalnya dilukiskan oleh Bertens sebagai seorang yang teguh pendirian dan pembuka jalan baru bagi terciptanya keadilan di Afrika Selatan khususnya dan dunia umumnya. Nelson Mandela, tulis Bertens, adalah tokoh yang berjasa mempopulerkan kata ”rekonsiliasi”, berkat pidatonya saat dilantik menjadi presiden baru Afrika Selatan pada 10 Mei 1994.

Nelson Mandela menyerukan penyembuhan luka masa lampau, penghormatan hak fundamental setiap individu, dan pembentukan tatanan baru yang didasarkan atas keadilan untuk semua. Rekonsiliasi ala Mandela ini perlu ditiru oleh calon pemimpin bangsa Indonesia yang akan berlaga pada Pemilu 2009 ini. Rekonsiliasi akan mampu menciptakan tatanan masyarakat adil dan makmur, sebagaimana cita-cita bangsa Indonesia.

Akhirnya, buku ini merupakan buah karya filsuf Indonesia dalam memetakan persoalan etis dari berbagai masalah aktual. Melalui buku ini,kita akan mampu melihat hal-hal yang etis dan tidak etis di balik setiap masalah. Buku ini juga akan menggugah dan mengasah pandangan kritis kita terhadap berbagai persoalan yang berserakan di sekitar kita.(*)

Benni Setiawan,
Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar