Search

Minggu, 07 Juni 2009

Menjadi Pemimpin Sejati




Seputar Indonesia, Minggu, 07 Juni 2009

BANGSA Indonesia saat ini sedang melaksanakan hajatan besar lima tahunan,yang dinamakan pemilihan umum (pemilu).Pemilu kali ini terasa begitu spesial karena diadakan pada saat bangsa ini tengah dilanda krisis keuangan global sejak awal tahun lalu.


Pemilu legislatif telah dilaksanakan pada 9 April lalu. Kini bangsa Indonesia menyambut ajang paling bergengsi di 2009 ini, yaitu pemilihan presiden (pilpres). Tiga pasang calon presiden dan wakil presiden telah siap berlaga.

Mereka adalah Megawati Soekarno Putri-Prabowo Subiyanto (Mega- Pro) yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra); Susilo Bambang Yudhoyono- Boediono (SBY-Boediono) yang diusung koalisi Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP),dan beberapa partai kecil yang tidak lolos ambang batas perolehan suara (parliamentary threshold); dan Muhammad Jusuf Kalla-H Wiranto (JK-Win) yang diusung Partai Golkar dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).

Tiga pasangan capres dan cawapres ini akan beradu program dan meraih simpati rakyat yang akan ditentukan pada 8 Juli untuk putaran pertama dan 8 September untuk putaran kedua. Fungsi utama pemilu adalah memilih calon pemimpin bangsa.Ia akan menentukan arah dan nasib bangsa ini setidaknya dalam lima tahun mendatang. Kesalahan dalam memilih pemimpin saat ini akan membawa petaka terhadap nasib bangsa lima tahun yang akan datang. Jim Clemmer melalui buku Sang Pemimpin,Prinsip Abadi untuk Keberhasilan Tim dan Organisasi, menjelaskan secara gamblang arti sebuah pemimpin dan kepemimpinan.

Bagi Jim, pemimpin harus mampu membuat perbedaan. Inilah semangat utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.Tampil beda dengan gagasan yang kuat akan mengantarkan seseorang menduduki posisi penting dalam perusahaan atau pemerintahan. Sebagaimana Barack Husein Obama Jr dengan slogan change (perubahan), mampu meraih simpati masyarakat Amerika Serikat dan mengantarkannya menjadi seorang presiden kulit hitam pertama di negeri Paman Sam.

Seorang pemimpin bagi pemikir terkemuka Amerika Utara ini juga harus memiliki keautentikan.Para pemikir yang autentik membangun kepercayaan yang menjembatani celahcelah pemisah antara ”kami dan mereka”. Para pemimpin seperti itu memiliki integritas dan konsistensi yang tinggi.Mereka mengembangkan lingkungan yang penuh keterbukaan dan transparansi, yaitu menampilkan masalah-masalah yang sebenarnya.

Sebagai hasilnya,tim-tim tiba pada jantung permasalahan performa dan tidak bermain politik atau menjilat atasan. Lebih dari itu,melalui buku tersebut, Jim pada dasarnya ingin menyatakan bahwa para pemimpin memandang lebih jauh dari situasi sekarang, melihat kemungkinankemungkinan yang ada. Itulah sebabnya mengapa kepemimpinan selalu berhubungan dengan perubahan.

Itulah sebabnya mengapa kepemimpinan adalah sebuah tindakan,bukan jabatan. Ketika pemaknaan kepemimpinan menyentuh pada ranah ini,sebuah bangsa akan dipimpin dengan kebijaksanaan. Kebijaksanaan akan mengantarkan pada kemakmuran dan keadilan.Hal ini karena seorang pemimpin sadar betul akan eksistensi dirinya. Ia bukanlah pejabat publik yang pantas untuk selalu dihormati dan dipuja-puja. Namun, ia adalah pelayan masyarakat yang siap mendengar keluhkesah dan bergerak cepat dalam menyelesaikan persoalan bangsa.

Ia selalu bekerja sekuat tenaga untuk kemakmuran bangsanya, bukan kepentingan pribadi dan kroni-kroninya. Lebih lanjut Jim menyatakan, para pemimpin yang kuat merupakan pelatih yang efektif mengetahui nilai dari R & R (reflection and renewal/refleksi dan pembaruan). Mereka secara berkala menarik diri dan tim-tim mereka dari kesibukan tiap hari dalam pelaksanaanpelaksanaan untuk menangani diri sendiri. Mereka secara terusmenerus mengajukan pertanyaanpertanyaan seperti,”Apakah yang harus tetap kita lakukan, yang harus kita berhenti lakukan dan yang mulai kita lakukan untuk menjadi lebih efektif”?

Prinsip-prinsip kepemimpinan yang dikemukakan dalam buku ini tidak hanya untuk memimpin diri sendiri, tetapi juga memimpin orang lain. Bagi Jim, hal itu adalah persoalan menumbuhkan kepemimpinan kita dari ”dalam sini” menuju ”ke luar sana”. Selain gagasan segar yang mengalir dari semangat Jim,format buku ini sangat unik. Buku ini diformat seperti majalah. Dengan format ini, pembaca tanpa sadar akan terus diajak membaca hingga akhir halaman buku.

Format yang menawan dan menawarkan gaya baru dalam tradisi tata letak buku ditambah dengan gambar dan kutipan dari tokoh-tokoh dan pemikiran-pemikiran dari berbagai sumber yang luar biasa, semakin menguatkan gagasan dalam buku ini. Tidak hanya itu, buku ini sangat inspiratif dan provokatif. Lebih dari itu, dengan format yang unik dan mudah dibaca,buku ini dirancang untuk memperkaya danmemberi informasi kepada siapa saja yang memiliki tanggung jawab dalam memimpin orang—entah dalam sebuah kelompok kerja kecil atau sebuah perusahaan multinasional yang besar.

Kehadiran buku ini sangat tepat di tengah situasi bangsa yang karut-marut. Buku ini hadir membawa pelita dan harapan baru bagi masa depan bangsa Indonesia. Bangsa ini membutuhkan seorang pemimpin sejati, yaitu sosok pemimpin yang memandang kepemimpinan bukanlah sebuah jabatan, melainkan sebuah tindakan nyata dalam mengemban amanat kemanusiaan. Adakah capres dan cawapres seperti itu? (*)

Benni Setiawan,mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga,Yogyakarta