Search

Senin, 25 Mei 2009

Kritik Habermas atas Masyarakat




Resensi, Koran Seputar Indonesia, Minggu, 24 Mei 2009

Jurgen Habermas merupakan tokoh cukup fenomenal abad ini.Dia seorang tokoh pembaru dari Mazhab Frankfurt,Jerman,sebuah aliran pemikiran yang digawangi oleh Max Horkheimer,Theodor Adorno,dan Herbert Marcuse.

Tidak hanya itu, Habermas juga ”pendobrak kebuntuan” berpikir ala Mazhab Frankfurt. Ia mampu memadukan dan melampaui tradisi berpikir pendahulunya, tanpa harus terjebak dalam dikotomi salah dan benar. Kecemerlangan filsuf Jerman kontemporer ini semakin tampak ketika ia pindah dari Universitas Frankfurt ke Max Planck Institute di Starnberg dan menulis karya besar berjudul Theorie des Kommunikativen Handelns (diterjemahkan dalam bahasa Inggris The Theory of Communicative Action).

Melalui karya ini Habermas secara brilian mendialogkan teori kritisnya yang disebut ”Teori Tindak Kritis” dengan tradisi besar ilmu-ilmu sosial modern. Melalui teorinya ini,Habermas beranggapan bahwa kekuasaan semestinya tidak dilegitimasikan, tapi dirasionalisasikan. Rasionalisasi di sini tidak dimengerti dalam paradigma kerja, tapi dalam paradigma komunikasi.

Artinya, kekuasaan harus dicerahi dengan diskusi rasional yang bersifat publik agar anggota masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam menentukan perkembangan politik, termasuk mengarahkan kemajuan teknis masyarakat. Habermas tidak memandang rasionalisasi kekuasaan sebagai ide normatif belaka.

Dia melihat tren itu mendasar dalam proyek modernisasi, dan arah-arah itu memang dapat dibaca dalam perkembangan politik modern. Rasionalitas adalah aspirasi modernitas. Namun, ide rasionalisasi kekuasaan ini akan bersifat normatif jika dihadapkan pada politik yang miskin partisipasi.

Artinya, ide itu memerlukan perjuangan untuk dapat diwujudkan dalam realitas, dan ini mengandaikan kehendak politis yang dilandasi oleh kepercayaan atas rasionalitas. Mempertanyakan relevansi pandangan ini bagi sebuah masyarakat sama dengan mempersoalkan kepercayaan pada rasionalitas dalam masyarakat itu sendiri.

Jadi,secara hipotesis dapat dikatakan, kiranya rasionalisasi kekuasaan sulit diwujudkan selama belum ada perjuangan untuk rasionalisasi dalam dunia akademis dan masyarakat,dan selama penghuni dunia politik bersikap defensif terhadap kritik rasional serta menghambat perkembangan (embrio) institusi-institusi diskusi publik dalam masyarakat.

Dalam arti ini, rasionalisasi merupakan proyek modernisasi yang belum usai. Kehadiran buku Menuju Masyarakat Komunikatif karya F Budi Hardiman sangat relevan dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini,yang kini diwarnai hirukpikuk pesta demokrasi. Melalui buku ini, penulis seakan mengingatkan segenap warga bangsa bahwa gegap-gempita pemilu Indonesia sudah saatnya tidak dipandang sebagai gejala atau jalan memperoleh kekuasaan semata.

Namun, pemilu sebagai jalan untuk meraih kekuasaan tersebut dapat menyentuh aspek riil dalam masyarakat sebab kekuasaan tidak hanya berkutat pada bagaimana memperoleh kursi, kedudukan, dan jabatan. Lebih dari itu, kekuasaan merupakan manifestasi nyata dari sistem kebenaran yang harus terus diperjuangkan.

Lebih dari itu,melalui buku ini, pengajar Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta ini ingin memperlihatkan pendirian Habermas yang sangat penting bahwa sejauh diarahkan oleh sistem kapitalisme, masyarakat modern akan terus menyingkirkan solidaritas sosial sebagai aspek terpenting dalam kehidupan bersama.

Habermas yakin bahwa imperatif pasar kapitalis dan patologi sosial yang diakibatkannya dapat diatasi dengan penguatan solidaritas sosial melalui praksis komunikasi. Mengingat krisis solidaritas sosial terus berkembang bahkan dalam skala lebih besar di era globalisasi pasar dewasa ini, kritik Habermas yang diulas dalam buku ini tetap relevan untuk masyarakat kita.

Buku ini pembahasan komprehensif atas karya-karya Habermas mengenai sains, modernitas, dan postmodernisme yang telah mengangkatnya menjadi intelektual kelas dunia. Penulis kelahiran Semarang, 31 Juli 1962 ini mampu menelaah karya-karya besar Habermas dengan apik dan cermat tanpa harus terjebak pada kultus individu yang berlebihan.

Di tangan F Budi Hardiman, yang juga staf pengajar di Universitas Pelita Harapan, Jakarta ini,karya Habermas begitu renyah dan mampu melampaui batasbatas tradisi berpikir dan menohok realitas masyarakat modern. F Budi Hardiman dengan ketekunannya juga mampu menerjemahkan adikarya Habermas,tanpa mengurangi makna substansialnya, begitu penting untuk dibaca sebagai alat baca baru dalam menafsir realitas masyarakat yang semakin kompleks.

Karena itu, siapa saja yang ingin mengenal lebih dekat filsuf kelahiran 18 Juni 1929, di Dusseldorf, Jerman ini wajib membaca karya ini. Buku Menuju Masyarakat Komunikatif karya alumnus Hochschule fur Philosophie Munchen, Jerman,2001 ini memusatkan perhatian pada ilmu-ilmu sosial yang berkembang dewasa ini.Ilmu-ilmu sosial ini memuat diskursus filosofis.

Buku ini tidak terlalu tebal, tapi mungkin sulit dibaca oleh mereka yang kurang terbiasa dengan filsafat. Akan tetapi,dengan ketekunan dan kesabaran,kita akan menemukan bahwa buku ini menelusuri sebuah petualangan filosofis yang sangat menarik. Dengan kecermatan lebih tinggi, kita akan menemukan bahwa buah karya ini sebuah kritik mendasar terhadap masyarakat kapitalis yang telah mendarah daging dalam seluruh aspek kemanusiaan.

Benni Setiawan,
mahasiswa Program Pascasarjana
Universitas Islam Negeri (UIN)
Sunan Kalijaga,Yogyakarta