Search

Rabu, 17 Oktober 2007

Santun di Jalan, Cermin Budaya Bangsa

Jawa Barat
Senin, 10 September 2007

Forum
Santun di Jalan, Cermin Budaya Bangsa

Oleh Benni Setiawan

Jalan Raya Subang, Jawa Barat, tampaknya menjadi jalan "angker" bagi pengguna jasa transportasi darat. Setidaknya dalam seminggu terakhir Juli 2007, sekitar 100 nyawa mati sia-sia di jalan. Bahkan, pada 29 Juli delapan orang meninggal akibat kecelakaan antara bus pariwisata dan sedan di Subang. Hal tersebut semakin menambah deret panjang jumlah kematian di jalan. Menurut data, 36.000 orang per tahun mati di jalan.

Kecelakaan di jalan sepertinya "kalah pamor" dari kecelakaan yang disebabkan pesawat jatuh, kapal tenggelam, dan kereta api anjlok. Kematian di jalan dianggap hal biasa oleh sebagian masyarakat dan bahkan pemerintah. Sangat sedikit perhatian yang diberikan pemerintah mengenai hal ini. Hal itu tentu berbeda jika dibandingkan dengan kecelakaan pesawat, kapal, atau kereta api. Menteri dan tak kurang Presiden mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Akan tetapi, tidak ada satu pun pejabat pemerintah mengucapkan belasungkawa atas kematian di jalan.

Pertanyaan yang muncul kemudian, mengapa kematian di jalan masih saja dianggap sebagai hal biasa oleh masyarakat? Padahal, kematian di jalan adalah penyumbang kematian terbesar di Tanah Air.

Menurut data, kematian di jalan jauh lebih besar dibandingkan dengan kecelakaan di udara, laut, maupun kereta api. Jumlahnya mencapai 90 persen dengan kerugian material Rp 41 miliar untuk kecelakaan pada 2005. Dengan angka kematian yang mencapai 36.000 jiwa, Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia setelah Nepal (Kompas, 6/1/2007). Kurang disiplin

Kematian di jalan disebabkan beberapa faktor, di antaranya kurangnya kedisiplinan pengguna jalan. Data yang dihimpun Departemen Perhubungan menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen kecelakaan di jalan diakibatkan perilaku warga yang kurang disiplin, 4 persen faktor kendaraan, 3 persen faktor jalan, dan hanya 1 persen faktor lingkungan.

Rendahnya sikap disiplin masyarakat dalam berkendara merupakan bukti semakin terkikisnya-kalau tidak mau dibilang rendahnya-budaya bangsa. Budaya bangsa Indonesia semakin terkikis laju modernisasi dan globalisasi. Masyarakat Indonesia enggan mempelajari dan belajar mengenai budaya bangsa.

Ambil contoh dalam budaya masyarakat Sunda. Dalam kosmologi Sunda diajarkan, jika seseorang menabrak seekor kucing hingga mati, ia harus mengitari kucing tersebut tujuh kali dan tidak melakukan perjalanan selama 40 hari.

Apa yang terjadi sekarang? Seseorang yang telah mencelakai jiwa orang lain (menabrak) dengan seenaknya melarikan diri. Padahal, nyawa orang lebih berharga daripada seekor kucing.

Masyarakat Indonesia hanya mengambil mentah-mentah piwulang Sunda tersebut. Ia tidak mampu menerjemahkannya dalam kehidupan sehari-hari. Banyak anggota masyarakat yang masih menghargai seekor kucing daripada nyawa seseorang.

Hilangnya semangat mempelajari budaya bangsa juga telah menghilangkan jati diri bangsa Indonesia. Mungkin benar apa yang dinyatakan Surya Paloh, Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar, dalam Silaturahmi Kebangsaan pada 24 Juli lalu di Palembang. Bangsa Indonesia yang dahulu dikenal ramah sekarang dikenal pemarah. Bangsa Indonesia yang dahulu dikenal suka bergotong royong sekarang menjadi bangsa yang individual. Bangsa Indonesia yang dahulu dikenal santun menjadi bangsa yang arogan dan seterusnya. Jati diri bangsa

Indonesia telah kehilangan jati diri sebagai bangsa. Maka, tidak aneh jika bencana menjadi hal biasa di negeri ini. Bencana kematian di jalan dianggap biasa dan tidak menjadi program atau perhatian pemerintah.

Keadaan tersebut sudah saatnya dihentikan sekarang juga. Ada beberapa hal yang sekiranya perlu dilakukan. Pertama, pola hidup disiplin. Disiplin adalah sikap tertib dan patuh pada peraturan yang berlaku. Sikap disiplin dapat terlihat dalam keseharian, seperti sikap mau antre. Selain sikap antre, guna menekan angka kematian di jalan, sudah selayaknya semua pihak tidak menjadi calo dalam pengurusan surat izin mengemudi (SIM).

Sudah menjadi rahasia umum, pengurusan SIM merupakan lahan korupsi. Ironisnya, calo SIM adalah aparat yang seharusnya menegakkan disiplin berlalu lintas itu sendiri. Dengan membayar uang jasa ratusan ribu rupiah, seseorang akan mudah mendapatkan SIM yang dibutuhkan.

Sikap tidak disiplin inilah yang mengakibatkan seseorang yang belum cakap berkendara menjadi tidak taat hukum. Padahal, dalam ujian SIM ada pertanyaan dan praktik berkendara yang baik. Jika seseorang yang tidak pernah lulus ujian SIM mendapatkan SIM dengan mudah, tidak aneh jika banyak kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan kematian di jalan raya.

Kedua, pola pendidikan berkelanjutan. Sudah saatnya lembaga pendidikan (sekolah) menjadi wadah yang efektif dalam mendidik peserta didik dan masyarakat untuk bersikap disiplin. Sekolah-sekolah sudah saatnya mengajarkan sikap disiplin berlalu lintas dan berkendara. Seperti di Yogyakarta, lembaga swadaya masyarakat Mitra Selamat di Jalan (MSJ) mendidik guru TK menjadi pionir bagaimana seharusnya berperilaku di jalan.

Dengan mendapatkan pendidikan berperilaku di jalan sejak dini, seseorang akan mampu bersikap disiplin dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sikap disiplin harus dilatih sejak dini sehingga ketika dewasa disiplin telah menjadi bagian hidup yang tidak dapat ditinggalkan.

Pada akhirnya, sikap disiplin (santun) di jalan adalah cermin budaya bangsa Indonesia, bangsa yang saling menghormati sesama pengguna jalan. Jika masyarakat Indonesia sudah tidak lagi santun di jalan, bangsa ini telah kehilangan budaya dan jati dirinya. Benni Setiawan Pemerhati Pendidikan