Search

Selasa, 29 Januari 2008

Sehat Tanpa Rokok

Merokok bagi sebagian orang bagaikan makanan pokok. Rokok bahkan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Tanpa merokok, hidup serasa hampa dan tidak ada gairah bekerja. Ironisnya, rokok juga dinikmati anak usia sekolah. Bahkan, anak usia sekolah bangga dengan kepulan asap rokok yang konon menjadi identitas kejantanan.

Bahaya merokok pun tidak pernah terpikirkan olehnya. Ia hanya mengejar gengsi pergaulan hidup sesama teman. Tak jarang uang jajannya hanya habis untuk membeli rokok daripada untuk membeli buku-buku pelajaran dan bacaan. Fenomena semacam ini tak pelak membuat guru gusar. Peringatan hingga hukuman menjadi pemandangan setiap hari. Akan tetapi, mereka tidak jera dibuatnya. Fenomena merokok di kalangan pelajar ini mengindikasikan lemahnya moralitas pelajar sebagai tulang punggung bangsa Indonesia.

Mulai 1 Juli 2005, pemerintah mengumumkan keputusan untuk menaikkan cukai rokok 15-20 persen. Bahkan, tahun ini pemerintah akan menaikkan cukai rokok hingga 50 persen.

Kenaikan harga ini diharapkan mampu menekan jumlah pecandu rokok. Hal ini ditegaskan oleh Dr Khalilur Rahman, penanggung jawab pengendalian tembakau untuk WHO kawasan Selatan-Timur Asia (WHO-Searo). Beliau menyatakan, kenaikan harga rokok akan membuat mereka yang mulai mencoba merokok membatalkan niatnya, dan mereka yang sudah merokok akan berkurang atau berhenti karena tidak mampu membelinya lagi (Kompas, 31/05/2005).

Persoalan yang muncul kemudian adalah apakah semudah itu untuk mencegah dan membuat jera para perokok, apalagi perokok pemula. Terkait 30 penyakit

Persoalan rokok yang terkait dengan 30 jenis penyakit, antara lain hipertensi, gangguan jantung, stroke, gangguan pernapasan kronis, tuberkulosis, kanker, impotensi, keguguran, dan kelahiran prematur, tidak mudah diselesaikan.

Rokok bagaikan makanan pokok rakyat Indonesia. Maka, tak mudah mengubah makanan pokok tersebut. Ambil contoh, jika masyarakat Indonesia terbiasa mengonsumsi beras dan tiba-tiba diganti dengan roti atau gandum, seperti negara lain, hal itu bukan pekerjaan mudah.

Beberapa hal yang dapat dilakukan guna mencegahnya antara lain pertama, melarang suami merokok. Sebab, rokok sangat berbahaya bagi perkembangan janin dan ibu hamil. Larangan merokok ini merupakan bentuk penghormatan dan menghargai hak-hak orang lain, mulai dari lingkungan keluarga. Jika penghormatan terhadap lingkungan terkecil sudah menjadi kebiasaan, untuk menghormati lingkungan yang lebih besar akan lebih mudah.

Kedua, keteladanan kepada anak. Artinya, ketika larangan merokok menjadi peraturan keluarga, sang ayah juga tidak diperkenankan merokok di hadapan anak-anak. Jika ayah terpaksa harus merokok, langkah yang diambil adalah merokok ketika anak-anak tidak ada di rumah. Proses imitasi (meniru) dari figur ayah yang tidak merokok dapat merangsang anak untuk tidak merokok.

Ketiga, lingkungan masyarakat. Masyarakat adalah proses pembentukan karakter dan sifat anak. Apabila tatanan masyarakat baik, karakter dan sifat anak akan baik juga. Sebaliknya, jika tatanan masyarakat rusak, karakter dan sifat anak juga akan rusak.

Masyarakat sebagai keluarga kedua mempunyai peran cukup signifikan. Artinya, masyarakat seharusnya menjadi bahan rujukan bagi anak. Lingkungan yang mendukung untuk selalu mengingatkan bahaya rokok seharusnya menjadi agenda utama dalam proses pendidikan selanjutnya. Merokok adalah pekerjaan sia-sia serta merugikan diri sendiri dan lingkungan sekitar (orang lain). Merokok akan merusak organ tubuh. Uang terbuang sia-sia. Alangkah lebih baik jika uang tersebut ditabung dan dibelanjakan barang yang lebih bermanfaat bagi hari esok.

Merokok juga membuat lingkungan kotor, baik dalam bentuk asap maupun debu rokok. Selain itu, merokok juga mengganggu ketertiban umum karena tidak menghormati hak-hak orang lain yang ingin menghirup udara bersih. Dengan demikian, merokok dapat dikaterogikan melanggar hak asasi manusia (HAM).

Penanaman makna dan nilai penghormatan terhadap diri sendiri dan orang lain akan terbentuk dari lingkungan yang baik.

Keempat, penanaman nilai yang lebih akademis di lingkungan sekolah. Anak usia sekolah sudah saatnya dikenalkan dengan memberi arti lebih pada perilaku dan tata krama. Artinya, keragaman budaya masyarakat harus dimaknai secara lebih luas. Merokok adalah perbuatan tercela. Dengan merokok berarti kita telah membuang banyak uang untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Penanaman nilai

Merokok juga akan berakibat pada kecanduan yang lebih besar. Artinya, jika anak usia sekolah sudah berani merokok dengan hasil "korupsi" uang jajan dan uang sekolah, di tahun berikutnya mereka akan mencoba hal baru, sebagaimana ia mencoba rokok untuk pertama kali. Sebut saja, ia akan berani membeli barang-barang haram, seperti narkotika.

Penanaman nilai ini menjadi penting. Artinya, guru sebagai penanggung jawab di sekolah seharusnya mengajarkan etika yang baik terhadap peserta didik. Guru tidak boleh merokok di depan peserta didik, sebagaimana orangtua dan masyarakat memberi teladan.

Guru juga perlu memberi informasi secara ilmiah bahwa bahaya merokok telah merenggut 4,9 juta manusia pada 2000. Diperkirakan pada 2020 jumlah itu akan meningkat dua kali lipat. Kematian yang diakibatkan asap rokok paling banyak terjadi di negara berkembang, seperti Indonesia.

Pencegahan dan cara hidup sehat sudah saatnya diajarkan sejak dini. Perubahan secara berkala dan sejak dini akan lebih terasa manfaatnya jika dibandingkan dengan perubahan secara instan.

Pencegahan yang dimulai dari generasi muda adalah cerminan keberhasilan dalam meneruskan cita-cita perjuangan bangsa Indonesia. Jika bangsa Indonesia meninggalkan generasi muda pecandu rokok, bangsa ini juga akan dipimpin oleh seorang pemimpin yang sakit secara fisik ataupun mental. Kondisi demikian akan semakin mempermudah kaum neokolonialisme dan neoliberalisme menjajah bangsa Indonesia yang kaya ini.

Pada akhirnya, perhatian semua pihak tentunya sangat diperlukan guna menyelamatkan generasi muda di masa mendatang.
BENNI SETIAWAN Pemerhati Pendidikan
Kompas, Rabu, 16 Mei 2007.