Search

Rabu, 02 Januari 2008

Banyak Jalan Menuju Tuhan

Buku:
Banyak Jalan Menuju Tuhan

Benni Setiawan*) (02/01/2008 - 16:29 WIB)



Jurnalnet.com (Jogja): Belum lekang dari ingatan kita betapa banyak aliran keagamaan dianggap sesat dan menyesatkan oleh otoritas negara dalam hal ini majelis ulama Indonesia (MUI). Dengan mengeluarkan fatwa haram, MUI bak “Tuhan baru” yang secara spontan diikuti oleh umatnya.

Tidak mengheran apabila bersamaan dengan keluarnya fatwa sesat banyak umat yang berbodong-bondong menghakimi dengan tindak kekerasan. Mereka tidak segan untuk memukul, menciderai bahkan membakar rumah-rumah tempat persembunyian anggota kelompok yang dianggap sesat dan menyesatkan. Sebagaimana terjadi baru-baru ini jemaah Ahmadiyah di Sukabumi Jawa Barat di serang oleh sekelompok orang yang mengatasnamaka agama.

Belum lagi persoalan pengerusakan dan pengusiran umat Kristen di beberapa daerah. Mereka dianggap tidak memiliki izin mendirikan tempat ibadah dan keberadaannya menganggu ketertiban masyarakat.

Sungguh ironis memang keadaan ini tumbuh subur di negeri yang konon plural. Keanekaragaman budaya, tradisi, bahkan agama seakan ingin disatukan. Padahal menyatukan yang plural sebagai realitas hidup bermasyarakat adalah pekerjaan yang melanggar hak asasi manusia (HAM). Menyatukan entitas yang plural hanya akan mengerdilkan kelompok minoritas. Lebih lanjut, akan banyak terjadi kesewenang-wenangan yang pada akhirnya mengarah kepada tindakan yang bertentangan dengan norma-norma kehidupan.

Keadaan ini tentunya harus segera dihentikan. Artinya, harus ada gerakan baru atas pemahaman keagamaan yang lebih mengedepankan aspek kemanusiaan daripada pengagungan ritus dan simbol-simbol agama.

Maka, hadirnya buku ini ingin mengembalikan semangat keagamaan yang berdimensi kemanusiaan tersebut. Buku yang ditulis oleh Guru Besar UIN Sunan Kalijaga ini mengajak kepada umat beragama untuk menyadari bahwa hidup beragama pada dasarnya bukan hanya pada pemaknaan ritus-ritus yang sakral saja, apalagi, hanya mengangung-agung simbol-simbol keagamaan. Hidup beragama adalah hidup dalam dimensi sosial yang luas. Seseorang yang mengaku beragama harus dapat menjaga hubungan dan kehormatan dirinya dihadapan Tuhan dan umat manusia. Jadi tidak hanya baik secara vertikal tetapi juga baik secara horisontal.

Maka, menurut penulis buku ini yang juga anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), umat beragama harus mampu keluar dari bingkai simbolisme agama. Ia harus berani menafsir (mengoreksi) proses keagamaan yang selama ini diyakini

Dengan proses ini akan terjadi kesepahaman bahwa semua agama adalah rahmatan lil alamin (keberkahan bagi semua alam). Jika sudah demikian, tidak akan ada lagi tindak “penyesatan” dan kekerasan intern umat beragama dan antar pemeluk agama. Hal ini dikarenakan, pada dasarnya Tuhan itu Esa, akan tetapi banyak jalan menuju keselamatan (Tuhan). Maka tidak dapat dihindari ragam kepercayaan dan cara beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan proses ini, seseorang akan mampu beragama dengan baik, yaitu tidak hanya terbelenggu kepada ritus dan symbol agama melainkan mampu mentransformasikannya di dalam kehidupan sehari-hari dalam bingkai kemanusiaan.

Walaupun merupakan buku kumpulan tulisan yang berserak di berbagai media massa yang tidak dapat menghindar dari pengulangan kata dan bahasan, buku ini tetap layak untuk dibaca dan didiskusikan lebih lanjut.

Pada akhirnya, buku yang diulas dengan gaya bahasa bertutur tanpa mengurui ini patut dibaca bagi mereka yang masih menyatakan sebagai umat beragama dan berkeyakinan bahwa beragama adalah proses yang tidak bertepi, sebagaimana dalam prolog yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif al-Maun Institute Moeslim Abdurrahman.


Judul Buku : Satu Tuhan Seribu Tafsir

Penulis : Abdul Munir Mulkhan

Penerbit : Kanisius, Yogyakarta

Cetakan : I, 2007

Tebal : 174 Halaman

*) Pembaca sedikit buku.