Search

Selasa, 29 Januari 2008

Kurban

Rentetan peristiwa tahun 2006 tidak lepas dari bencana alam. Dimulai dari banjir meluluhlantakan Jember Jawa Timur dan Banjarnegera Jawa Tengah di awal tahun 2006. dan baru-baru ini banjir dan tanah longsor juga menelan korban jiwa di Madina. Selain korban jiwa, kerugian materiil tak terhitung lagi.

Pantas kalau negeri ini di sebut dengan negeri bencana. Hal ini dikarenakan bertubi-tubinya bencana alam dan penyakit menyerang bangsa Indonesia. Mulai dari Demam Berdarah (DB), kurang gizi dan kelaparan di Yahukimo beberapa waktu yang lalu. Hal ini juga, menandakan paradoksnya keadaan republik Indonesia.

Dalam tulisan ini tidak akan panjang lebar membahas hal tersebuit di atas. Tulisan ini akan mengurai persoalan di atas dengan semangat disyariatkannya kurban pada 10, 11,12, dan 13 Dzulhijjah.

Teladani Ibrahim

Semangat kurban ini pada dasarnya mengikuti apa yang telah diajarkan Ibrahim AS beberapa dekade tahun yang lalu. Ibrahim adalah seorang Hamba Tuhan yang sangat patuh terhadap segala perintahNya.

Di tengah keterpurukan moral Ibrahim berani menantang kaumnya yang menyembah berhala. Ia menggantungkan kapaknya di leher berhala yang berdiri menganggakang. Sedangkan berhal-berhala kecil yang ada disekelilingnya sengaja dihancurkan terlebih dahulu.

Perilaku Ibrahim ini tentunya membuat marah seluruh kaumnya. Ketika ditanya siapkah yang menghancurkan berhala-berhala tersebut, Ibrahim mengatakan dengan tenang bahwasanya yang mengahcurknnya adalah berhala yang paling besar dengan memakai kapak yang digantungkan di atas lehernya. Sontak, pengakuan ini dibantah oleh kaumnya. Tidak mungkin seorang berhala besar mampu menghancurkan berhal kecil di selilingnya. Ia adalah patung yang tidak dapat bergerak.

Ketika pengakuan ini keluar dari mulut kaumnya, Ibrahim kemudian melakukan dakwah suci agar mereka kembali menyembah Tuhan. Hal ini dikarenakan, berhala (patung) yang mereka sembah tidak mampu melindungi dirinya dari serangan orang lain.

Contoh kesetiaan Ibrahim terhadap Tuhannya juga ditunjukkan pada kisah, penyembelihan anaknya Ismail. Ismail adalah anak yang telah ia nantikan sekian ribu tahun. Ismail adalah buah doa dan keteguhan Ibrahim menjalankan syari'at Tuhan.

Ketika Ismail menganjak dewasa, dalam mimpi Ibrahim, ia diperintahkan oleh Tuhan untuk menyembelih anaknya. Ini adalah ujian yang kesekian kalinya untuk Ibrahim. Ketika, mimpinya dikonsultasikan kepada anaknya, sanga anak menjawa, kalau ini adalah syariat dari Tuhan saya rela untuk disembelih. Kisah penyembelihan Ismail inilah yang kemudian dijadikan rujukan disyariatkannya penyembelihan hewan kurban.

Apa yang dapat kita ambil dari kisah di atas? Umat manusia setidaknya meneladani apa yang telah dikerjakan Ibrahim. Ia adalah pribadi yang pantang menyerah dalam menghadapi ujian dari Tuhan. Ia selalu patuh dan taat terhadap apa yang diperintahakan Tuhan kepadanya. Ia juga rela untuk menyerahkan harta yang paling berharga (Ismail) dengan ikhlas guna memenuhi perintah Tuhan. Semangat keikhlasan Ibrahim untuk menyerahkan harta yang paling berharga demi memenuhi perintah Tuhan, setidaknya akan dapat menyelesaikan sedikit persoalan yang menumpuk pada bangsa ini.

Ambil contoh, bencana alam di berbagai daerah di Indonesia. Selain mereka kehilangan sanak saudara, mereka juga kehilangan harta benda. Mereka sekarang menjadi miskin yang sebenarnya. Artinya, secara psikologis ia miskin, karena kehilangan keluarga dan sanak saudara. Secara finansial, ia kehilangan harta benda yang telah diupayakan selama sekian puluh tahun.

Seseorang menjadi miskin yang diakibatkan oleh bencana alam inilah sebut dengan the new mustadhafin. Mereka inilah yang seharsunya mendapatkan perhatin lebih dari masyarakat luas. Kurban sebagaimana disyariatkan oleh Tuhan, pada hakekatnya adalah kesediaan untuk berbagi dengan harta bendanya yang paling berharga kepada orang lain. Kurban juga merupakan doktrin keagamaan yang harus kita ambil semangatnya. Menurut Prof. Whitehead, sebagaimana dikutip Nurcholish Madjid (1987), menyatakan bahwa, agama itu, dari segi sifat doktrinalnya, dapatlah digambarkan sebagai suatu sistem mengubah budi pekerti, jika kebenaran-kebenaran umumnya ttersebut dipegang secara ikhlas secara sungguh-sungguh.

Kurban pada dasarnya adalah semangat untuk berdema kepada orang lain. Kedermaan dengan menyerahkan hartanya yang paling berhaga inilah yang akan menumbuhkan keluhuran budi. Kurban yang selama ini, berbentuk hewan pada dasarnya dapat diubah sesuai dengan kebutuhan. Bantuan yang dibutuhkan oleh saudara-saudara kita di Jember dan Banjarnegera, sekarang ini tidak berbentuk daging kambing ataupun sapi. Mereka sekarang membutuhkan bahan makanan yang dapat dipergunakan untuk mempertahankan hidup. Bahan bangunan, untuk membangun rumah mereka yang roboh dan lain sebagainya. Maka, kurban kali ini dengan semangat menyerahkan harta yang paling berharga sebagaimana dicontohkan oleh Ibrahim, harus dapat diraskan oleh the new mustadhafin yang berada di berbagai wilayah Indonesia.

Hewan kurban seperti domba dan sapi, mungkin kurang dpat memberikan manfaat kepada korban bencana alam. Mereka lebih membutuhkan barang-barang yang dapat dipergunakan untuk mempertahankan hidupnya. Di tengah cobaan bencana alam yang silih berganti di Indonesia, semoga semangat kurban dapat bermanfaat lebih kepada para korban bencana alam.

Bernni Setiawan* Anggota Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM)
KPO/EDISI 119/JANUARI 2007