Search

Minggu, 18 Januari 2009

Mengenal Teologi Lingkungan


Seputar Indonesia, Minggu, 18 Januari 2009


Judul : Fiqih Ekologi, Menjaga Bumi Memahami Makna Kitab Suci
Penulis : Dr. H. M. Thalhah, SH., MH dan Achmad Mufid A.R
Penerbit : Total Media, Yogyakarta
Terbit : 2008
Tebal : 319 Halaman

BENCANA banjir dan tanah longsor selalu menyertai perjalanan bangsa ini.Namun, warga negeri ini tidak pernah mengambil pelajaran dari rentetan bencana tersebut.

Manusia Indonesia masih saja suka membabat hutan untuk kepentingan komersial. Bahkan, mereka rela “menggadaikan” kedaulatan bangsa dan negara dengan menjual kayu hasil rampasan di Kalimantan dan Sumatera, untuk memuaskan dahaga cukong di Malaysia dan Singapura.

Akibat keserakahan manusia tersebut,menurut data Kementerian Negara Lingkungan Hidup, tutupan hutan di Pulau Jawa tinggal 7%, Nusa Tenggara 25%,Sumatera 25%,Bali 27%,Kalimantan 44%, Sulawesi 64%, Maluku 73%,dan Papua 81%. Maka tidak aneh jika, berdasarkan data Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), banjir dan tanah longsor mendominasi bencana tahun 2006–- 2007,khususnya di ulau Jawa.

Bencana itu terjadi di lebih dari 2.850 desa pada 61 kabupaten/ kota. Jumlah bencana itu meningkat jika dibandingkan dengan periode 2000– 2003,yakni pada 1.288 desa. Sementara menurut data Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Alam, sepanjang 2007 telah terjadi 379 bencana alam.

Sebanyak 67% di antaranya berupa banjir dan tanah longsor. Setidaknya 918 orang tewas dan tidak ditemukan dalam bencana tersebut serta 200.000 rumah penduduk rusak. Kerugian materiil sudah tidak terhitung lagi.

Jika diasumsikan, akibat longsoran tanah di jalan tol Cipularang Km 144,8, Bandung (13/1/ 2008),sepanjang lebih dari 30 meter, yang menyebabkan lumpuhnya arus lalu lintas dari Jakarta–-Bandung dan sebaliknya, selama kurang lebih enam jam saja, kerugian yang ditanggung Jasa Marga, sebesar Rp70 juta.

Bisa dibayangkan, berapa triliunan rupiah kerugian materiil akibat bencana banjir dan tanah longsor sepanjang empat tahun terakhir. Permasalahan ini sudah saatnya kita tanggulangi bersama. Salah satunya dengan membumikan konsepsi teologi lingkungan.

Buku FiqihTeologi ini menjelaskan secara panjang lebar konsep menjaga alam dengan perspektif Alquran. Alquran sebagai kitab suci umat Islam yang konon mayoritas di negeri ini,secara tersirat dan tersurat mengajarkan arti penting alam bagi kehidupan umat manusia. Manusia tidak dapat hidup tanpa alam.

Dan sebaliknya, alam juga tidak akan berguna tanpa manusia. Dalam kajian buku ini, Fiqih Ekologi difokuskan pada tiga pembahasan utama, yaitu interaksi sesama manusia, interaksi manusia dengan lingkungannya,dan interaksi manusia dengan alam sekitarnya (Bagian Delapan).

Kelebihan buku ini tidak hanya mendasarkan pada teks-teks Alquran, tetapi dengan penafsiran yang genuine tanpa menyalahi kaidahkaidah dalam memahami kitab suci umat Islam ini. Pesan teks Alquran di tangan Thalhah dan Acmah Mufid AR, menjadi lebih indah dan mempunyai makna.

Ia tidak lagi mati sebagaimana penafsiran- penafsiran kaku yang pernah dilakukan oleh pendahulunya (mufasir generasi awal dan abad pertengahan). Melalui buku ini, Rektor Universitas Bojonegoro (2003– 2007) dan pengasuh Pesantren Kemanusiaan “Min- Ka”Yogyakarta ini,mengajak pembaca untuk kembali merenung hakikat diri (manusia) dan alam dalam hubungannya dengan proses penciptaan alam.

Alam ini diciptakan tanpa sia-sia.Maka itu,keteraturan antara penghuni alam menjadi hal utama. Pembaca dapat langsung memahami buku ini pada bagian tujuh dan delapan,tanpa harus membaca bagian satu hingga enam. Namun jika pembaca ingin lebih mengetahui hubungan atau hakikat manusia dalam hubungannya dengan alam, sangat sayang melewatkan bagian satu hingga bagian enam.

Buku ini tampaknya ditujukan bagi kalangan tertentu saja. Artinya, buku ini lebih tepat dijadikan (baca: disebut) buku teks pelajaran atau buku referensi mata kuliah fikih lingkungan. Hal ini karena, pembahasan-pembahasan di dalamnya cenderung ilmiah murni.

Mungkin bagi, seseorang yang tidak suka membaca buku serius, buku ini sulit untuk dimengerti. Meski demikian, buku ini tampaknya layak dibaca masyarakat Indonesia yang masih peduli dengan kehidupannya. Kehidupan yang senantiasa dihantui kecemasan dan ketakutan akan datangnya bencana alam, berupa banjir dan tanah longsor, sebagai akibat ulah dan ketamakan manusia.

Dengan membaca buku ini, seseorang diharapkan mampu memahami eksistensi diri dan lingkungannya, sehingga manusia tidak semenamena terhadap alam semesta berdasarkan keyakinan dari kitab suci.(*)

Benni Setiawan,
Mahasiswa Program Pascasarjana
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga,
Yogyakarta