Search

Minggu, 02 Agustus 2009

Selamatkan remaja Indonesia dari dating violence



Resensi, Solo Pos, 02 Agustus 2009

Pacaran, telah menjadi kamus umum remaja Indonesia. Tidak pacaran, ”Gak gaul lo”. ”Hari gini gak punya pacar”, capek deh. Itulah ungkapan yang sering kita temui dalam obrolan anak muda zaman sekarang. Pacaran menjadi hal biasa dan merupakan kebutuhan wajib dalam sistem pergaulan ”anak gaul”.
Aktivitas pacaran pun seringkali mengalahkan pelajaran sekolah. Peserta didik mencuri-curi waktu untuk sekadar bertemu pacar di saat jam pelajaran sekolah. Tidak hanya itu, waktu istirahat yang dialokasikan untuk benar-benar mengendurkan urat saraf digunakan sebagai media ”temu darat” yang tidak beretika. Artinya, banyak peserta didik melakukan aktivitas seksual secara terbuka dan bebas baik di kantin atau tempat-tempat khusus. Tempat tersebut seperti di kantor UKS, kantor Osis, Pramuka, maupun warung internet (warnet) terdekat.
Tempat yang disebut terakhir, malah seringkali digunakan untuk melampiaskan nafsu birahi yang belum saatnya dilakukan oleh anak-anak usia remaja. Dimulai dengan mengakses situs-situs porno, guna merangsang kedua makhluk berbeda jenis kelamin ini. Mereka seperti tanpa kontrol melakukan hal yang melanggar norma-norma sosial. Sebagaimana temuan, Sony Set yang dirangkum dalam buku ini.
Temuan Sony Set sunggung mencenggangkan. Jumlah remaja Indonesia pengakses internet yang kecanduan menontong dan mengoleksi materi pornografi masuk dalam peringkat 10 besar dunia! (hal. 68). Data dari Miyabi, kita dapat menyimpulkan bahwa dari 2004 hingga 2008 para pengakses internet di Indonesia telah menjadi kolektor dan penikmat film porno yang menampilkan adegan kekeraan di dalamnya. Dahsyatnya, para pengakses internet di Indonesia menduduki peringkat satu dunia sebagai konsumen video porno kekerasan hasil produk negara Jepang. Ironisnya, empat kota tertinggi pengakses situs porno adalah kota-kota pendidikan, seperti Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, dan Bandung (hal. 69).
Lebih dari itu, aktivitas menonton blue film telah mengkonstruk pemikiran remaja Indonesia. Dalam aktivitas keseharian dan pacaran pun, orientasi mereka hanyalah sex, sex, dan sex. Mereka akan melakukan apa saja untuk membujuk pacarnya agar mau melakukan aktivitas sex sebagaimana dilihatnya dalam gambar-gambar porno. Jika, pacar tidak mau menuruti keinginannya, maka violence (kekerasan) menjadi hal yang ”wajib” dilakukan.
Ya, dating violence menjadi genre baru dalam pergaulan remaja Indonesia. Dating violence adalah pola kekerasan dalam hubungan cinta yang dilakukan seseorang untuk mengendalikan dan mengatur pasangannya agar menuruti semua keinginannya (hal. 135).
Buku ini bercerita panjang lebar mengenai apa itu, bagaimana ciri-cirinya, dan tanda-tanda korban dating violence. Buku ini menjadi menarik karena didasarkan pada fakta, baik berupa angka maupun pengakuan korban dating violence. Semua data diramu dan diracik dengan apik dengan bahasa ala anak muda yang santun dan renyah. Pembahasaan anak muda ala Sony Set juga tidak mengurangi misi stop dating violence. Dengan bernas, rangkaian kata mengalir bagi air kehidupan yang membasahi dan menyadarkan. Betapa remaja Indonesia dalam bahaya.
Sony Set yang juga dikenal sebagai pengebrak gerakan Jangan Bugil di Depan Kamera, mengajak semua pihak untuk menyelamatkan masa depan remaja Indonesia. Melalui buku ini, kita akan mendapatkan informasi yang berharga mengenai bagaimana cara membentengi remaja Indonesia dari tindak dating violence. Menyelamatkan remaja dari dating violence merupakan langkah nyata menyelamatkan bangsa Indonesia dari keterpurukan. Hal ini karena, remaja merupakan tulang punggung bangsa dan penerus estafet kepemimpinan bangsa.
Usaha nyata Sony Set ini memang perlu mendapat apresiasi (penghargaan). Sebagaimana komentar Heru Kasidi, Asisten Deputi Bidang Perlingdungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan, ”buku ini patut dibaca dan penulisnya patut mendapat penghargaan”.
Akhirnya, selamatkan remaja Indonesia dari dating violence. Selamat membaca....

Benni Setiawan, mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.