Search

Sabtu, 15 Agustus 2009

Melamatkan anak dari kekurangan ASI



Benni Setiawan, Peneliti Lentera Institute, tinggal di Sukoharjo

GeRak, 49, 13-17 Agustus 2009

Mempunyai seorang anak, merupakan idaman bagi setiap keluarga. Anak menjadi lentera yang akan selalu menerangi kehidupan rumah tangga. Ketiadaan anak dalam ikatan perkawinan biasanya menjadi awal runtuhnya bangun rumah tangga. Walaupun ada juga rumah tangga tanpa anak rukun dan damai. Dan sebaliknya rumah tangga dengan anak malah tidak harmonis.
Namun, apa yang terjadi, anak-anak kita sekarang semakin banyak yang tidak menemukan kebahagiaan dan ketenangan jiwa dengan meminum air susu Ibu (ASI), dekapan kasih sayang ketika tidur, dan seterusnya secara langsung. Kesemuannya telah kita ganti dengan susu buatan lewat botol (dot) yang sedemikian keras untuk dipegang oleh anak.
Padahal, menurut para psikolog, seorang anak yang meminum ASI secara langsung dengan (maaf) memainkan susu Ibunya akan menyebabkan kelembutan jiwa, demikian pula yang sebaliknya anak-anak yang meminum susu buatan melalui botol (dot) maka jiwa mereka akan keras sekeras botol yang dipegangnya, anak-anak akan mengalami dahaga jiwa. Ini kelihatanya sangat sepele dan remeh temeh, tetapi sebenarnya sangat berpengaruh besar terhadap kepribadian dan masa depan anak-anak kita (Nurul Huda SA: 2002).
Selain itu, pemberian ASI pada dasarnya dapat mencegah keracunan akibat banyaknya produk susu palsu, sebagaimana baru-baru ini terjadi. Kemudian, menurut penelitian Tim Peneliti McGill Kanada, dari 14.000 anak, menunjukkan bahwa anak yang diberi ASI lebih cerdas dari pada anak yang tidak diberi ASI. Kandungan asam lemak (fatty acid) di dalam ASI diduga meningkatkan kecerdasan, tetapi laporan itu mengatakan aspek kedekatan fisik dan batin dalam proses menyusui mungkin mendorong perubahan permanen pada otak bayi yang sedang berkembang. Lebih dari itu, dengan diberikannya ASI pengeluaran orangtua dapat dihemat.
Pendek kata, ASI tidak akan pernah tergantikan oleh produk susu apapun. Akan tetapi, apa yang terjadi pada masyarakat Indonesia sekarang? Orangtua lebih bangga memberikan produk susu buatan untuk anak-anaknya daripada ASI. Ibu-ibu muda malu ketika bagian tubuhnya terlihat jelek akibat memberi ASI. Ibu-ibu muda juga sudah sibuk dengan pekerjaan kantor dan bisnis yang mereka geluti. Tidak ada lagi waktu untuk menyusui anak-anaknya.
Padahal, tumbuh kembang anak dapat dimulai saat mereka mendapat asupan ASI yang cukup. ASI menjadi bentuk pendidikan pertama yang diberikan oleh orangtua, teruama dari seorang Ibu.
Begitu pentingnya ASI bagi tumbuh kembang anak, menjadikan pemerintah Kabupaten Klaten di Jawa Tengah mengeluarkan Perda No 7 Tahun 2008, tentang Inisiasi Menyusu Dini ASI Eksklusif. Di antara isi perda tersebut adalah kewajiban seorang Ibu untuk memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan pertama kepada bayinya.
Mengapa perda ini menjadi penting? Kasih sayang orangtua pada dasarnya dapat dilihat saat masa persalinan. Apakah anak ketika lahir langsung mendapat air susu ibu (ASI) melalui proses inisiasi. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian aksi eksklusif selama enam bulan dan diteruskan hingga umur dua tahun.
Perda Inisiasi Menyusu Dini ASI Ekskulsif merupakan terobosan berani dari pemerintah daerah. Perda ini akan semakin menguatkan hubungan antara Ibu dan bayi. Walaupun cenderung memaksa, kehadiran perda ini bagai oase di tengah gurun pasir. Perda ini akan menginspirasi para Ibu untuk memberikan hak ASI kepada bayinya. Ibu akan semakin dekat dengan buah hatinya. Bayi juga akan mampu merasakan dekapan kasih dari orangtuanya. Dengan demikian, ia akan menjadi generasi penerus keluarga, bangsa, dan negara yang berkarakter.
Keradaan perda yang salah satu fungsinya untuk menekan atau mengurangi angka kematian Ibu dan bayi perlu kita dukung. Artinya, perlu ada peran serta masyarakat dalam mewujudkan rasa cinta kasih antara Ibu dan anak. Rasa cinta kasih ini merupakn awal dari masa depan anak itu sendiri.
Beberapa hal yang perlu dilakukan adalah, pertama, kesadaran Ibu yang didukung oleh suami. Kesadaran memberikan ASI kepada bayi merupakan hal utama. Artinya, tanpa adanya kesadaran bahwa ASI merupakan hak bayi, cita-cita tersebut akan bertepuk sebelah tangan. Kemudian dimana peran suami (Ayah)? Ayah juga harus mendorong istrinya untuk merawat payudaranya agar nanti ketika melahirkan, ASI dapat langsung diberikan.
Kedua, peran serta bidan. Keberhasilan memberikan ASI eksklusif kepada bayi perlu didukung oleh kemampuan bidan yang memadai. Pengalaman penulis mendampingi persalinan istri menunjukkan bahwa, tidak semua bidan menyampaikan pentingnya ASI bagi bayi. Ketika bayi lahir, seorang bidan malah membuatkan sebotol susu buatan. Alasannya untuk kelancaran proses pencernakan bayi. Namun, keinginan bidan ini saya tolak, karena ASI istri saya sudah dapat langsung diberikan.
Seorang bidan, perlu membimbing pasangan suami-istri baru agar mereka langsung memberikan ASI kepada bayinya. Nalar bisnis bidan harus disingkirkan, agar tidak menyesatkan masyarakat.
Ketiga, peran serta pemerintah, swasta, dan instansi lain, untuk memberikan ruang publik yang seluas-luasnya untuk menyusui. Di setiap kantor pemerintahan maupun swasta harus disediakan ruang khusus untuk bayi, agar Ibu mereka dapat memberikan ASInya. Pemerintah dan swasta juga harus memberikan keluasan kepada Ibu agar dapat membawa bayinya ke kantor untuk disusui.
Pada akhirnya, ASI merupakan hak asasi anak, dan merupakan kewajiban seorang Ibu untuk menunaikannya. ASI dapat menjamin kelangsungan hidup yang lebih baik antara Ibu dan Anak. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan dan dilanjutkan hingga dua tahun, dapat menjamin masa depan anak yang lebih baik. Wallahu a’lam.