Search

Kamis, 13 Desember 2007

Meruwat Bumi untuk Manusia

Meruwat Bumi untuk Manusia
Jakarta
Sabtu, 28 April 2007

Bumi adalah tempat kita hidup dan berpijak. Darinyalah kita dapat mempertahankan hidup. Sebab, dari perut bumi kita mendapatkan segala hal yang kita butuhkan.

Ambil contoh, dari bumi padi bisa tumbuh dan menghasilkan beras. Dari bumi muncul minyak bumi, timah, tembaga emas dan seterusnya. Hal ini menjadikan bangsa Indonesia kaya akan barang tambang. Dan benarlah renungan Ignas Kleden (1986), bahwa segala sesuatu bertumbuh dari bawah. Bangunan yang kokoh nan indah berasal dari fondasi yang kuat. Bunga yang menawan tumbuh dari biji dan perawatan yang baik.

Namun, apa yang terjadi dengan bumi Indonesia? Bencana alam sepertinya tidak mau berhenti menerpa semesta alam Indonesia. Masih segar dalam ingatan kita tsunami di Aceh, gempa bumi di Yogyakarta, gempa dan tsunami di Pangandaran, dan banjir bandang serta tanah longsor yang melanda dari Sabang hingga Merauke. Tidak dapat dihitung lagi kerugian materiil dan imaterial.

Bumi Indonesia sudah rusak. Itulah kesimpulan sementara. Hutan alam dibabat habis untuk kepentingan ekspor cukong nakal. Kayu Indonesia di jual ke Malaysia secara illegal. Sehingga Malaysia dijuluki sebagai egara terbesar dalam ekspor kayu. Dari mana asalnya? Tentunya dari hutan alam Indonesia.

Kerusakan hutan di Indonesia menurut Menteri Kehutanan M.S. Ka'ban telah mencapai 59,1 juta hektar. Sedangkan laju percepatan kerusakan hutan mencapai mencapai 2,8 juta hektar per tahun (Kompas, 02/05/2006).

Demikian pula pasir di Kepulauan Riau. Pasir-pasir tersebut dijual kalau tidak mau disebut diselundupkan secara illegal ke Singapura. Singapura telah berhasil mengembangkan wilayah daratannya dan mampu mereklamasi beberapa pantai menjadi daratan. Itu semua pasir dari Indonesia. Bangsa Indonesia tampaknya kurang bersyukur dengan anugerah Tuhan ini. Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan untuk mencegah kesurakan alam Indonesia?

Ruwat

Ruwat dalam kosmologi Jawa berari, membenahi, melestarikan, membuang sial, dan melakukan pembaruan. Ruwatan biasanya dilakukan untuk orang yang sering sakit-sakitan. Mereka diruwat agar dapat hidup sehat. Salah satu ritual ruwat yang biasa dilakukan adalah dengan jalan mengganti nama, memandikannya dengan kembang tujuh rupa dan melarangnya untuk berpergian dalam beberapa hari atau hari-hari tertentu.

Alam Indonesia tampaknya juga perlu diruwat. Hal ini dikarenakan, murkanya alam telah banyak membuat manusia mati sia-sia, habisnya harta bendanya, dan tidak seimbangnya makrokosmos bumi.

Tidak seimbangnya makrokosmos bumi akan berakibat fatal. Akibat kerusakan hutan dan pemakaian bahan bakar fosil misalnya, menurut Lester R Brown (1987), telah meningkatkan kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfer. Dengan pemakaian bahan bakar fosil sebanyak empat persen pertahun (1900-1980), maka pada 2030 kadar CO2 di udara diperkirakan meningkat dua kali lipat. Suhu rata-rata akan naik tiga derajat Celcius dalam masa 45 tahun berikutnya. Peningkatan suhu bumi membawa bermacam pengaruh, di antaranya adalah kenaikan permukaan laut setinggi 5-7 meter. Maka diperkirakan dataran Jakarta akan tenggelam pada tahun 2050.

Maka salah satu jalan untuk mengantisipasi hal tersebut di atas adalah dengan jalan meruwat bumi Indonesia. Yaitu, pertama, menghentikan pembalakan liar. Pembalakan liar tidak hanya akan merugikan negara tetapi juga, merugikan bangsa Indonesia. Karena pembalakan liar negara tidak mendapatkan income (pendapatan). Lebih lanjut, manusia Indonesia akan mendapatkan petaka akibat banjir dan tanah longsor. Penegakan hukum menjadi kunci utamanya. Hukum harus adil. Tidak tebang pilih.

Kedua, menghemat pemakaian bahan bakar fosil. Sumber daya alam tidak dapat diperbarui ini sudah saatnya dihemat. Tidak hanya untuk keberlangsungan hidup anak cucu kita. Lebih dari itu, untuk mengurangi kadar polusi udara dan pemanasan global.

Salah satunya adalah dengan kembali menggunakan sepeda onthel. Sepeda onthel dapat digunakan untuk menempuh perjalanan jarak dekat. Onthel dapat menghemat bahan bakar fosil (minyak). Dan dapat membuat hidup kita lebih sehat.

Ketiga, memulai menanam satu pohon mulai dari sekarang. Menanam satu pohon akan dapat memperlambat laju pencemaran udara. Meningkatkan kadar O2 (oksigen) yang penting bagi kehidupan.

Gerakan menanam satu pohon dapat dilakukan di sekitar rumah. Sisa lahan pembangunan rumah dapat dimanfaatkan dengan baik. Menanam satu pohon juga perlu dilakukan oleh pihak pengembang perumahan. Menyediakan lahan serapan air dengan menanam satu pohon akan sangat berarti di hari depan. Selain mencegah bencana banjir, dengan banyak pohon, maka rumah akan kelihatan lebih asri.

Alam menjadi amanah manusia untuk terus dilestarikan. Jika alam dirusak maka manusia akan mendapatkan kerusakan pula. Dan sebaliknya, jika manusia bersahabat dengan alam, maka alam akan memberikan banyak manfaat.

(Benni Setiawan)